Tampilkan postingan dengan label Dharma Wacana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dharma Wacana. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 April 2016

Jaman Kaliyuga Apa itu?

oleh Ida Pedanda Gunung

JAMAN KALIYUGA APA ITU?
Avatar pengguna
Om Swastiastu:
Semoga Sang Penguasa semesta ini mengampuni segala keikhlapan saya, sebab saya menulis ini hanya atas dasar rasa keterpanggilan untuk ikut juga nimbrug pendapat tentang "JAMAN KALIYUGA". Karena hampir setiap saat ada yang mendiskusikannya, dan tidak jarang pula ada yang menjadikan kambing hitam.

Misalnya; Seseorang melihat tingkah laku orang beda dengan jaman yang mereka alami terdahulu, maka mereka mengatakan "...yah sekarang jaman kali, memang begitu". ada pula orang tua membiarkan prilaku anaknya yang sudah kelihatan menyimpang dari tatakrama sosial karena mereka menganggap jaman sekarang anak-anak harus begitu. saya punya teman yang pada mulanya dia sama sekali tidak bisa minum alkohol, dan sekarang mereka menjadi pemabuk berat.

Pada suatu ketika saya bertemu dengan dia disuatu tempat, lalu saya bertanya, tentang dia sekarang menjadi pemabuk, lalu dia menjawab dengan sangat enteng sekali begini jawabannya; Pada mulanya saya merasa malu, dan selanjutnya merasa kecewa karena sering diejek oleh teman-teman sebaya saya bahwa saya dikatakan ketinggalan jaman, dan saya dikatakan manusia dijaman pis bolong (jaman uang kepeng). Banyak lagi ejekan yang saya dapati sejenis itu bahkan ada yang lebih keras sampai menyinggung perasaan yang paling mendalam. Nah disitulah saya ingin mencoba, dan ingin pula memperlihatan kejantanan saya didepan mereka.

Selanjutnya saya menjadi ketagihan seperti sekarang. " Memang sekarang jaman kali yuga". Begitu ringkasnya cerita dia ke saya. Dan pernah pula saya ikut nimbrug ngobrol sebelum acara resmi yang saya ikuti dimulai. Beberapa teman yang termasuk orang-orang berilmu berdiskusi tentang jaman kali, sehingga terjadi dua pendapat yang berbeda antara lain: yang satu mengatakan jaman kali itu adalah ciptaan Tuhan sehingga manusia tidak salah mengikuti kehendak Tuhan.

Yang satu lagi berpendapat bahwa jaman kali itu adalah bikinan manusia. dan masing-masing memiliki argumentasi yang kelihatannya sangat cocok atau sangat mendukung pendapat mereka. sehingga pada akhirnya diskusi semakin tegang. Saat itulah saya masuk mengajukan pendapat seperti ini; Memang jaman kali itu adalah ciptaan Tuhan, sebab segalanya di alam semesta ini adalah ciptaan Beliau termasuk jaman kali.

Kalau boleh saya andaikan atau carikan contoh yang tujuannya lebih jelas apa yang saya maksudnya, adalah seperti ini; Andaikata jaman itu saya andaikan seperti sebuah bangunan yang diciptakan oleh Tuhan memiliki empat kamar antara lain,

1. kamar tidur ( jaman kertha ).
2. Kamar istirahat ( jaman tritha ).
3. kamar makan ( dwapara ). dan
4. Toilet ( jaman kali ).

dan Tuhan telah memberikan petunjuk dengan jelas dan gamblang tentang tatacara dan kegunaan dari masing-masing kamar itu, untuk kita mendapatkan kebahagiaan. sebab semua kamar itu diciptakan untuk manusia agar mereka mendapatkan kebahagiaan hidup.

Tetapi bila ada manusia yang tidak membaca, mungkin ada yang membaca tetapi tidak mau mengerti apalagi hanya sebatas teori saja dari petunjuk Tuhan itu, maka mereka akan buta tentang penggunaan dari masing-masing kamar tersebut. Sehingga banyak diantara mereka yang salah masuk kamar. ada yang perutnya lapar, masuk kamar toilet, ada yang ngantuk masuk ke kamar makan, sehingga keadaannya semakin semerawut. Kesemerawutan inilah yang dilakukan atau dibuat oleh manusia itu sendiri.

Maksud saya; jaman kali itu adalah ciptaan Tuhan dengan kemaha penciptaanNya, namun yang mebawa manusia itu salah masuk kamar adalah prilaku manusia itu sendiri, yang tidak mau atau tidak yakin dengan peraturan penggunaan kamar yang di berikan oleh Tuhan. jadi jangan menyalahkan Tuhan, salahkanlah diri kita sendiri. kenyataannya; Tuhan menciptakan alkohol itu ada gunanya untuk manusia, misalnya untuk obat mual dengan dosis tertentu, tetapi alkohol itu bukan minuman untuk menghilangkan haus. kita sudah tau Tuhan sudah memberi petunjuk; kalau kamu haus minumlah air, maka haus kamu akan hilang. seperti contoh tersebut di atas tadi, semestinya mereka yang merasa lapar harus masuk ke kamar makan dan disitu lalu makan, tetapi mereka yang sudah tau dirinya lapar mereka masuk ke toilet lalu minum air closet, siapa yang salah dan siapa yang menyuruh, Tuhan........? tidaaak! yang nyuruh adalah diri mereka sendiri.

Bila dari masing - masing kita mau membaca petunjuk Tuhan dan dari masing-masing kita mau mentaati, maka semua mereka yang masuk kamar mana saja pasti mendapatkan kebahagiaan. Bagi mereka yang perutnya sakit ingin buang air besar, lalu mereka masuk toilet dan buang air besar sepuasnya, maka setelah itu mereka mendapatkan kebahagiaan yang tak terhingga. Sebentarnya lagi mereka merasa sengsara karena perutnya lapar, lalu mereka masuk kamar makan dan makan sepuasnya akhirnya mereka akan bahagia, sebentarnya lagi mereka merasakan sengsangra karena ingin tau warta berita, lalu mereka masuk ke kamar istirahat, lalu nonton TV melihat dan mendengar berita setelah itu mereka akan bahagia, selanjutnya mereka merasa tersiksa karena ngantuk, lalu mereka masuk kamar tidur terus tidur, selanjutnya mereka akan bahagia.

Jika kita salah memanfaatkan salah satu kamar tersebut, itulah yang disebut mereka mengalami jaman kali. Yang membikin merka mengalami jaman kali adalah ulah mereka sendiri, karena merka tidak mau, tidak yakin dengan apa petunujuk yang diberikan oleh Tuhan, dalam hal ini jelas ajaran Agama atau ajaran Ketuhanan.

Kalau kita ingin menikmati kebahagiaan bersama marilah kita SADAR akan diri kita dengan pertanyaan yang patut kita jawab sendiri yaitu;

1. SIAPA DIRIMU INI?
2. UNTUK APA KAU ADA DISINI?
3. APA YANG KAU BAWA KESINI?
4. SETELAH DISINI KAU MAU KEMANA?
5. APA YANG BISA BAWA KESANA.

Selanjutnya tingkatkan keyakinan kita terhadap keberadaan Tuhan, dengan cara mentaati segala petunjuknya dan menjauhi larangannya, taingkatkan cinta kita sesama manusia tidak pandang bulu, siapa mereka, dari mana mereka. dan selalu meningkatkan kasih sayang kita terhadap alam lingkungan, dengan cara pelihara, tata, dan manfaatkan serta lestarikan lingkungan kita sebaik-baiknya. kalu tidak kita yang melakukan itu untuk diri kita masing-masing, SIAPA LAGI ???.

Saya pernah membaca kalimat yang amat indah seperti ini: MANUSIA SELAIN DIBERIKAN KEMAMPUAN BERPIKIR OLEH TUHAN, MEREKA JUGA DIBERIKAN 2 HAK LAGI YANG TIDAK DIDAPATI OLEH MAKHLUK TUHAN YANG LAINNYA YAITU; HANYA MANUSIA YANG MAMPU MENOLONG DIRINYA DARI JERATAN NERAKA. DAN HANYA MANUSIA YANG MAMPU MENJADIKAN DIRI MEREKA, MAU JADI APA? oleh karena itu, marilah manfaatkan anugrah Tuhan itu untuk diri kita guna mencapai tujuan hidup ini yang sebenarnya.

Dari mana kita mulai.? mungkin ada timbul pertanyaan seperti. Dengan sendirinya pertanyaan itu kita harus jawab dengan kalimat: "MULAILAH DARI DIRI KITA SENDIRI".

Demikianlah uraian singkat ini semoga ada manfaatnya untuk mencapai kebahagiaan bersama, sesama ciptaan Tuhan.

Kamis, 14 April 2016

Contoh Teks Darma Wacana PERNIKAHAN USIA DINI DALAM PANDANGAN HINDU

 

PERNIKAHAN USIA DINI DALAM PANDANGAN HINDU

Om Swastiastu,
Om Avighnam Astu Namo Siddham
Yang terhormat Dewan Juri lomba Dharma Wacana
Yang Saya hormati umat sedharma yang hadir pada acara ini.
Pertama-tama tidak lupa Saya mengucapkan puji syukur kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas Asung Kerta Wara Nugraha-Nya kita semua dapat berkumpul disini dalam keadaan sehat dan tidak
ida pedanda gde gunung
kurang satu apapun.  Sebelum Saya membawakan Dharma Wacana ini ijinkan Saya untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama Saya Ni Made Atma Gebi Suryani dan biasa dipanggil Gebi, Saya disini mewakili SMA Negeri 1 Seputih Mataram. Pada kesempatan kali ini, Saya akan membawakan Dharma Wacana dengan tema “PERNIKAHAN USIA DINI DALAM PANDANGAN HINDU”. Saya sangat tertarik untuk mengangkat tema ini, karena pada saat ini banyak sekali terjadi perkawinan usia dini di lingkungan tempat tinggal Saya khususnya dan Negara Indonesia pada umumnya. Sebenarnya tema ini merupakan tema yang bersifat kontroversial, karena masing-masing individu bisa mempersepsikan berbeda-beda. Namun pada intinya Saya hanya ingin membagi cerita yang mungkin bisa menjadi pencerahan untuk direnungkan secara bersama-sama dalam menyikapi pernikahan usia dini dari perspektif agama Hindu.
Umat sedharma, kalau kita kaji perkawinan merupakan salah satu jenjang kehidupan yang semestinya akan kita lewati, dimana pada jenjang ini kewajiban yang harus kita laksanakan adalah pemenuhan artha dan kama berdasarkan dharma. Untuk pemenuhan kewajiban ini, maka seorang suami dan pasanganya harus memiliki bekal yang cukup, baik secara material maupun spiritual. Disamping itu, mental dan ilmu pengetahuan juga menjadi factor yang sangat penting demi tercapainya tujuan dari perkawinan. Namun seiring dengan derasnya arus modernisasi dan kemerosotan nilai moral yang tertanam dalam diri manusia, banyak sekali muncul penyimpangan-penyimpangan dari pelaksanaan dan pandangan terhadap system dan peraturan mengenai perkawinan. Tidak jarang kita temukan kasus perceraian dalam masyarakat, tindak kekerasan dalam rumah tangga serta kasus memiliki istri lebih dari satu. Saat ini, hal itu sangat mudah untuk dilaksanakan dan masyarakatpun menganggap hal semacam itu dengan sikap wajar.
Umat sedharma, sebagai umat Hindu, hendaknya permasalahan tersebut tidak terjadi, karena kita meyakini bahwa perkawinan itu merupakan suatu ikatan lahir bhatin yang suci dan sangat sakral sifatnya yang harus selalu dijaga keabadianya. Seperti dalam kitab Manawa Dharmasastra IX. 101, diuraikan;
 “Anyonyasyawayabhicaro
Bhaweamarnantikah
Esa dharmah samasena
Jneyah stripumsayoh parah”
Artinya:
“Hendaknya supaya hubungan yang setia berlangsung sampai mati, singkatnya ini harus dianggap sebagai hukum tertinggi sebagai suami istri”.
Berdasarkan sloka di atas nampak jelas bahwa agama Hindu tidak menginginkan adanya perceraian. Bahkan sebaliknya, dianjurkan agar perkawinan yang kekal hendaknya dijadikan sebagai tujuan tertinggi bagi pasangan suami istri, kita diwajibkan untuk melakukan perkawinan sekali saja dalam kehidupan kita. Untuk itu, maka perlu bekal ilmu pengetahuan yang mapan dan  kedewasaan diri untuk melangsungkan suatu perkawinan.
Umat sedharma, berdasarkan konsep catur asrama, perkawinan yang baik semestinya dilaksanakan setelah masa brahmacari, dimana kita telah memiliki suatu bekal ilmu pengetahuan yang dapat menghantarkan kita untuk menjadi orang yang bijaksana, sehingga bentuk dan pola pikir kita siap dalam menghadapi segala permasalahn yang kemungkinan muncul dalam kehidupan kita. Pernikahan di usia dini merupakan hal yang telah ada sejak lama karena sejak dulu banyak orang tua yang menikahkan anaknya di usia dini berharap kehidupan anaknya akan lebih terjamin dengan orang yang mereka kenal. Namun, pada kenyataannya anak yang menikah diusia dini banyak menemukan permasalahan yang akhirnya berujung pada perceraian. Penyebab terjadinya perkawinan dini dipengaruhi oleh dua hal, yaitu pengaruh ekstern, misalkan akibat lingkungan keluarga yang kurang memperhatikan anaknya, pergaulan bebas, hingga pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang-orang terdekat dan hamil diluar nikah juga merupakan alasan yang banyak dijumpai dikalangan masyarakat, sebab dilihat dari perkembangan jaman pada era globalisasi ini telah banyak budaya-budaya asing yang masuk dan memberi contoh yang buruk bagi perkembangan psikologis anak yang lama-kelamaan mengkikis nilai moral dan jati diri dalam diri anak. Dan pengaruh intern, yaitu pengetahuan agama atau sradha dalam diri seseorang yang kurang membuat sudut pandang terhadap sesuatu hal menjadi sempit.
Umat sedharma, agama Hindu memandang perkawinan usia dini ini bukan merupakan suatu perkawinan yang ideal. Karena usia muda atau remaja merupakan masa yang diharuskan untuk menuntut ilmu pengetahuan dan dharma (Brahmacari). Setelah masa itu tercapai, maka dapat dikatakan telah siap untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, yaitu grhasta (berumah tangga). Lebih jauh lagi, hal ini diuraikan dalam kitab Niti Sastra V. sargah 1, yang berbunyi;
“Taki-taki ning sewaka guna widya, smarawi, Saya rwang puluh ring anayusya, tengahi tuwuh san wacana gogonta. Patilaring atmeng tanu panguroken”
Artinya :
Seseorang wajib menuntut ilmu pengetahuan dan keutamaan, jika sudah berumur 20 tahun orang boleh kawin. Jika setengah tua, berpeganglah pada ucapan yang baik hanya tentang lepasnya nyawa kita mesti berguru.
Umat sedharma, disini sangat jelas sekali diuraikan bahwa kita semestinya memiliki kemapanan terlebih dahulu dibidang ilmu pengetahuan sebagai dasar kearifan dan kebijaksanaan, setelah itu kita dapat melanjutkan ke jenjang perkawinan dengan standar minimal umur kita 20 tahun. Dalam keadaan ini, ilmu pengetahuan agama dan sradha adalah kunci utama untuk terhindar dari permasalahan yang mengakibatkan perceraian dalam rumah tangga. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, seperti tindak kekerasan dalam rumah tangga, perceraian dan perkawinan berulang-ulang, memiliki istri banyak, dan sebagainya.
Demikian darma wacana ini semoga bisa menjadi pencerahan untuk bisa menjadi renungan agar kita  semua mengerti mengenai perkawinan dalam agama Hindu yang bersifat sakral dan suci yang seharusnya kita jaga kekekalanya sampai akhir hayat kita. Jika ada kesalahan dalam penyampaian dan kata-kata, Saya mohon maaf sebesar-besarnya dan untuk menutup dharma wacana ini Saya haturkan Pramasantih,

Om Santih, Santih, Santih

sumber: http://mgmplampung.blogspot.com/2014/02/contoh-teks-darma-wacana-pernikahan.html

Melakukan Dana Punia Adalah Merupakan Salah Satu Kegiatan Dharma

DHARMA WACANA
Melakukan Dana Punia Adalah Merupakan Salah Satu Kegiatan Dharma
Oleh : Ida Ayu Ketut Andriyogi Pradnyaswari (NTB)
‘Om Awignam Astu Namo Namah Swaha’
‘Om swatyastu’
Rasa syukur yang paling dalam, yang muncul dari dalam lubuk hati saya atas perkenan dan anugerahNya, sehingga saya dapat berdiri disini untuk menyampaikan sekelumit Dharma Wacana , dengan pengharapan semoga tuntutan Sang Hyang Parama Kawi, dharma wacana saya ini dapat bermanfaat bagi kita sekalian dalam menjalankan dharma kita sebagai umat Hindu.
Umat sedharma yang saya hormati .
Pada kesempatan yang sangat baik ini , saya akan menyampaikan dharma wacana dengan tema Dana Punia .
Tema ini saya sampaikan di forum ini karena dalam kehidupan umat Hindu ajaran dana punia , mempunyai kedudukan yang sangat penting , baik di dalam kehidupan di dunia ini maupun di dalam alam kehidupan yang lain yaitu kehidupan sesudah di dunia ini. 
Umat sedharma yang saya hormati .
          Sebagai pembuka kata perkenankan saya menyampaikan sebuah kutipan dari Manawa Dharmasastra yang melukiskan betapa dana punia itu sangat utama peranannya di jaman ini yaitu di jaman Kali Yuga .
                                                Tapah para,kerta yuge.
                                                Tretayam jnyana mucyate.
                                                Dvapare yadnyavaivahur.
                                                Daana mekam kali yuge.
                                                ( Manawa Dharmasastra I.86 )
Maksudnya :
Pada zaman Kerta puncak beragama dengan Tapa. Pada zaman Treta dengan Jnyana. Upacara Yadnya pada zaman Dwapara. Sedangkan pada zaman kaliuge dengan Dana Punia.
MANAWA  Dharmasastra I.86 yang dikutip di atas menyatakan,bahwa Tapa adalah prioritas beragama pada zaman Kerta.Jnyana pada zaman Treta,upacara Yadnya pada zaman Dwapara dan Dana Punia pada zaman Kaliuge. Dana artinya pemberian dengan tulus ikhlas.Sedangkan Punia artinya pengabdian, selamat, suci, baik, bahagia, dan indah. Jadi, Dana Punia artinya Pemberian yang baik dan suci.
Umat sedharma yang saya hormati .
          Melakasanakan Dana Punia adalah merupakan salah satu kegiatan dharma yang sangat agung dan mulia, karena akan dapat menumbuhkan sifat-sifat kedewaan ( Daivi Sampad ) di dalam lubuk hati baik , di pihak pemberi, maupun di pihak penerima dana punia.
Namun perlu di maklumi , bahwa di dalam jaman Kali Yuga seperti  sekarang ini, dana punia tersebut sangat sulit dilaksanakan secara murni ,jujur,tulus,dan suci. Seperti di ungkapkan di dalam kitab Parasara Dharmasastra, bahwa di dalam jaman Kali Yuga dana Punia itu dilaksanakan adalah sebagai pengganti dari sebuah pelayanan, jadi sangat bersifat pamrih. Namun hal ini bukanlah berarti bahwa dijaman ini, sama sekali tidak ada kegiatan berdana punia.
Umat sedharma yang saya hormati .
          Secara umum Dana Punia bermakna sebagai suatu pemberian yang di sampaikan dengan hati tulus, jujur , penuh dengan semangat cinta kasih dan kasih sayang dan tanpa pamrih serta suci. Adapun dana yang akan di berikan itu tidak terbatas jenis dan jumlahnya. Apapun dapat di dana puniakan dan di berikan kepada siapa saja yang membutuhkan bantuan. Demikian luas arti dan makna dana punia tersebut, sehingga sebenarnya setiap orang dapat melaksanakan kegiatan dana punia tersebut . Keinginan untuk berdana punia hanya mungkin tumbuh dalam diri kita jikalau kita  menyadari bahwa kita adalah bersaudara sebagaimana yang di canangkan di dalam kitab Suci Weda. Apabila rasa persaudaraan tersebut kuat tertanam di dalam batin kita maka akan tumbuh rasa cinta kasih dan kasih sayang dalam kehidupan.
Dengan demikian semangat untuk melakukan dana punia itu akan mekar berkembang dalam kehidupan kita sehari-hari . Melaksanakan dana punia akan menjadi roh dan nafas kehidupan kita.
 Umat sedharma yang hormati.
          Selanjutnya, mari kita simak bermacam-macam jenis dana punia dan segala sesuatu yang dapat di jadikan sebagai dana punia.
Menurut kitab Sang Hyang Kahamayanikan dijelaskan dana punia sebagai berikut :
  • Dana yaitu pemberian berupa harta benda kepada orang yang membutuhkan.
  • Atidana yaitu pemberian dengan hati yang tulus dan ikhlas walaupun mengorbankan perasaaan.
  • Mahatidana yaitu dana punia berupa pemberian dalam bentuk jiwa raga.
Pemberian yang di dasari dengan Punia,tidaklah semata-mata dalam wujud uang . Dapat saja dalam bentuk tenaga , kehlian , dalam wujud waktu , dorongan moral , juga menahan indria atau hawa nafsu .
Berdasarkan jenis pemberian dana punia,dalam sarasamuscaya dana punia dapat di bedakan menjadi :
  • Dana punia desa yaitu pemberian berupa tempat,desa atau lahan yang digunakan untuk kepentingan umum.
  • Dana punia Agama yaitu dana punia yang berupa ajaran agama,ilmu pengetahuan dan yang lainnya yang menyababkan orang lain menjadi lebih pintar dan memiliki budhi pekerti yang luhur.
  • Dana punia drewya yaitu dana punia yang berupa harta benda yang menjadi kebutuhan.
Umat sedharma yang saya hormati .
Dalam Sarasamuscaya 180 , dinyatakan lebih utama melakukan Abhaya Daana dari pada Sarwa Daana.Abhya Dana adalah pemberian untuk melenyapkan rasa takut.Sedangkan Sarwa Dana adalah pemberian dalam bentuk harta benda.
Berdasarkan etika pemberian, kitab Sarasamuscaya membagi dana punia menjadi :
  • Uttamadana yaitu dana punia yang dilakukan secara hormat dan menghargai si penerima,dan diberikan dengan ikhlas dan hati yang suci, serta tanpa pamrih. Kepada orang yang memerlukan dengan tetap menghormati si penerima dana punia tersebut .
  • Madhyadana yaitu dana punia yang diberikan secara baik dan ikhlas, namun bukan atas kehendak si pemberi.
  • Nistadana yaitu dana punia yang di berikan dalam keadan marah atau terpaksa tidak menghargai orang lain dan tidak dilakukan secara tulus.
Bhagawad  Gita XVIII.5 dinyatakan hendaknya jangan pernah berhenti melakukan Daana,Yadnya,Tapa. Karena Daana,Yadnya,dan Tapa itulah yang menyucikan orang yang bijaksana.
Sesuai dengan sastra agama yang berkewajiban melaksanakan dana punia adalah:
  • Para penguasa Negara atau pemerintah.
  • Para pemuka agama dan pemuka masyarakat.
  • Penyelenggara yadnya .
  • Saudagar, banija, usahawan.
  • Orang – orang yang mampu.
  • Umat yang berpenghasilan tetap.
  • Umat yang berpenghasilan tinggi.
Yang berhak menerima dana punia:
  • Para guru rohani/ nabe.
  • Dangacarya (sulinggih).
  • Orang miskin yang terlantar.
  • Orang cacat.
  • Orang yang terkena musibah.
  • Tempat suci/ parahyangan.
  • Lembaga- lembaga sosial.
  • Rumah sakit.
  • Pasraman/ pendidikan.
Umat sedharma yang saya hormati .
Saat yang baik melaksanakan dana punia adalah :
ü  Uttarayana (Purnama Kadasa) umat Hindu diwajibkan melaksanakan dana punia secara serentak.
ü  Sewaktu- waktu tepatnya pada waktu Purnama dan Tilem baik Uttarayana, wisukala, daksinayana.
ü  Saat gerhana matahari dan gerhana bulan.
ü  Dalam keadaan pancabaya..
Berdasarkan waktu pemberian,dalam sarasamuscaya,dana punia dikelompokkan menjadi :
  • Uttarayana dana yaitu dana punia yang diberikan pada saat matahari berada di belahan bumi utara.
    • Daksinayana dana yaitu dana punia yang diberikan pada saat matahari berada pada belahan bumi selatan.
    • Sadacitimukha dana yaitu dana punia yang diberikan pada saat terjadinya gerhana matahari atau gerhana bulan.
    • Wisukala dana yaitu dana punia yang diberikan pada saat matahari berada tepat di tengah-tengah bumi atau berada di posisi garis katulistiwa.
Dalam Sarasamuçcaya sloka- ,261, 262, 263, demikian pula dalam Ramayana sargah II bait 53, 34 disebutkan bahwa harta yang didapat (hasil guna kaya) hendaknya dibagi tiga yaitu untuk kepentingan:
  • Dharma 30%
  • Kama 30 %
  • Dana harta (modal usaha) 40%.
Umat sedharma yang hormati.
Marilah kita simak, apa yang akan kita capai, dan apa yang kita peroleh, setelah kita secara terus menerus berkesinambungan,  melaksanakan dana punia di dalam kehidupan kita sehari-hari .
Pertama–tama di dalam batin dari orang-orang yang melaksanakan dana punia dengan hati yang tulus, maka di dalam hati nuraninya akan tumbuh :
  • Semangat cinta kasih dan kasih sayang yang tulus dan murni serta bebas dari perbuatan-perbuatan yang himsa dan adharma .
  • Juga, akan tumbuh rasa ikut berbahagia manakala orang lain berbahagia .
  • Akan tumbuh pula sikap tidak iri hati, bebas dari rasa benci dan dengki .
  • Batin orang melaksanakan dana punia dengan jujur dan tulus akan selalu tenang, damai dan berbahagia .
Selanjutnya,dalam kehidupan di alam lain yaitu di alam sesudah kita meninggalkan dunia ini, maka orang-orang yang telah melaksanakan dana punia dengan hati yang tulus dan ikhlas di dunia ini, mereka akan :
  • Mereka akan memperoleh berbagai macam kenikmatan yang belum pernah di alaminya di dunia ini .
  • dan di samping itu pada saat kita akan meninggalkan dunia ini, yaitu pada saat kita akan meninggal, maka dana punia itu akan menjadi teman kita dan yang akan menuntun kita di dalam perjalanan kita di dunia lain yang penuh di liputi kebahagiaan.
Umat sedharma yang saya hormati .
Demikianlah kebahagiaan dan kemuliaan yang akan kita alami apabila kita telah dapat melaksanakan dana punia dengan tulus, jujur dan ikhlas .
Oleh sebab itu marilah, sebelum terlambat, kita laksanakan dana punia itu dengan sepenuh hati dan jiwa kita, sebab dana punia adalah merupakan kewajiban utama di dalam zaman Kali Yuga .
Sekian Dharmawacana yang saya bawakan,semoga bermanfaat,dan bila ada kesalahan kata saya mohon maaf.
‘Om Santi Santi Santi Om’

sumber:https://pandejuliana.wordpress.com/2014/02/06/melakukan-dana-punia-adalah-merupakan-salah-satu-kegiatan-dharma/#more-851

TRI HITA KARANA

 
Om Swastyastu,
Yang saya sucikan Jero Mangku,
Yang saya Hormati Bapak kepala Desa
Dan para hadirin
Memnjatkan puji syukur,,
Pada kesempatan yang baik ini saya akan mencoba menyampaikan sebuah paparan yang topiknya “TRI HITA KARANA. Ketertarikan saya untuk mengangkat topik ini tiada lain berangkat dari sebuah renungan yang menghasilkan sebuah kekaguman atas keadiluhungan konsep Tri Hita Karana yang saat ini menjadi primadona dalam konsep pembangunan bagi Hindu yang Mandara (aman, damai dan sejahtera).
 Umat sedharma  yang saya banggakan, telah banyak fenomena kehidupan disisi kita saat ini dapat kita jadikan sebagai refleksi untuk bangkit menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tujuan agama Hindu Moksartham Jagadhita ya ca iti Dharma” hanya akan dapat terwujud apabila di hati umat  telah mampu menciptakan keselarasan, keharmonisan, serta keseimbangan dalam bergagai konteks kehidupannya. Konsep Tri Hita Karana yang mulai populer dan menjadi ikon Hindu dalam menata sendi-sendi kehidupan masyarakatnya sejak beberapa dasa warsa belakangan ini,sesungguhnya sudah ada sejak peradaban Hindu itu ada.
Pada zaman Majapahit Tri Hita Karana merupakan salah satu dari delapan belas rahasia sukses pemimpin besar Nusantara Gajah Mada pada waktu itu. Gajah Mada memasukkan konsep ajaran Tri Hita Wacana yang harus diikuti oleh para pemimpin Majapahit untuk mewujudkan cita-citanya mempersatukan Nusantara. Konsep Tri Hita Wacana yang dirumuskan oleh Gajah Mada itu, kini lebih dikenal dengan ajaran Tri Hita Karana sebagai sebuah doktrin keselarasan, keserasian, keharmonisan, dan keseimbangan dalam menata keajegan Hindu khususnya di Bali (Suhardana, 2008 : 77).
Tri Hita Karana yang secara etimologi terbentuk dari kata : tri yang berarti tiga, hita berarti kebahagiaan, dan karana yang berarti sebab atau yang menyebabkan, dapat dimaknai sebagai tiga hubungan yang harmonis yang menyebabkan kebahagian. Ketiga hubungan tersebut meliputi :
1. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa,
2. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan sesamanya, dan
3. Hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungannya.
Selanjutnya ketiga hubungan yang harmonis itu diyakini akan membawa kebahagiaan dalam kehidupan ini, di mana dalam terminalogi masyarakat HINDU diwujudkan dalam 3 unsur, yaitu : parahyangan, pawongan, dan palemahan.
Parahyangan adalah merupakan kiblat setiap manusia (baca : Hindu) untuk mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta ( sangkan paraning dumadi ) yang dikonkretisasikan dalam bentuk tempat suci, pawongan merupakan pengejawantahan dari sebuah pengakuan yang tulus dari manusia itu sendiri, bahwa manusia tak dapat hidup menyendiri tanpa bersama-sama dengan manusia lainnya (sebagai makhluk sosial). Sedangkan palemahan adalah merupakan bentuk kesadaran manusia bahwa manusia hidup dan berkembang di alam, bahkan merupakan bagian dari alam itu sendiri.
Para Dewan Juri, hadirin umat sedharma, dan pemirsa yang berbahagia. Akhir-akhir ini telah kita saksikan bersama berbagai macam fenomena dan kejadian alam serta sosial yang sangat memprihatinkan kita semua. Umat manusia semakin menjauhkan diri dari Sang Penciptanya, degradasi moral kian memuncak, dan kepedulian terhadap lingkungannya sudah tergerus oleh keegoisan yang tak mengenal kompromi. Sudah saatnya dan belum terlambat buat kita untuk memulai berbenah diri. Konsep yang paling sederhana adalah marilah kita gali khazanah adiluhung yang telah diwariskan oleh para leluhur kita terdahulu, serta mari kita representasikan ke dalam bentuk tindakan nyata dengan tetap mengedepankan kepentingan bersama. Mari kita duduk bersanding dengan kejernihan hati yang jauh dari rasa apriori dan kemunafikan. A no bhadrah kratawo yantu wiçwatah, semoga pikiran yang jernih dan bijak datang dari segala penjuru.
Misalnya Bali dengan popularitasnya di mata dunia, tidak semata karena keindahan panoramanya akan tetapi lebih dari itu adalah karena taksu yang dimiliki Bali. Taksu Bali yang kami maksudkan adalah terletak pada keutuhan konsep Tri Hita Karana dalam setiap gerak perilaku masyarakat Balinya. Bali dengan mayoritas penduduknya beragama Hindu memberi kontribusi besar yang turut mendongkrak menjadikan nama Bali semakin mendunia. Itu tiada lain karena konsep Tri hita Karana dan masyarakat Balinya yang religius dijiwai oleh ajaran Weda yang universal. Kita tidak menutup mata, bahwa masih banyak di belahan dunia ini memiliki keindahan alam yang jauh lebih asri dari Bali, dan bahkan tidak tertutup kemungkinannya telah mengadopsi serta mempraktekkan konsep Tri Hita Karana yang kita miliki. Timbul kemudian pertanyaan, “ Kenapa mereka tetap masih di bawah performa Bali ? Jawabannya adalah karena konsep Tri Hita Karana yang diadopsi dan masyarakat pendukungnya tidak dijiwai oleh spirit Weda.
Saudara-saudaraku umat sedharma yang saya banggakan, kembali kepada tema pokok dan judul dharma wacana kali ini, bahwasannya Tri Hita Karana sebagai konsep keselarasan hidup masyarakat Bali (baca: Hindu) memiliki spirit yang sangat kuat untuk mewujudkan HINDU yang siap dan tangguh dalam menghadapi tatanan masyarakat dunia yang semakin keras dan kompleks. Oleh karena itu mau tidak mau, rela tidak rela kita harus bersedia membuka diri untuk mempengaruhi dan dipengaruhi oleh budaya luar dengan semangat paramartha (tujuan mulia) serta tetap berlandaskan pada spirit dharma yang berstana dalam ajaran Weda. Saya yakin dengan demikian, HINDU ke depan merupakan kiblat dunia yang tiada duanya.
Dalam mengimplementasikan konsep Tri Hita Karana yang dimaksud, sangat ditekankan bahwa ketiga unsurnya harus diaplikasikan secara utuh dan terpadu. Unsur parahyangan, pawongan, dan palemahan tidak ada yang menduduki porsi yang istimewa. Dia senantiasa seimbang dalam pemikiran, seimbang dalam ucapan dan seimbang pula dalam segala tindakan. Sebagai konsep keharmonisan HINDU, Tri Hita Karana telah memberikan apresiasi yang luar biasa dari berbagai masyarakat dunia. Unsur parahyangan dalam menjaga keharmonisan dengan Ida Sang Hyang Widhi diwujudkan dalam berbagai bentuk aktivitas yadnya sebagai persembahan yang tulus kepada Sang Pencipta. Mulai dari pembangunan tempat suci, pelaksanaan upacara keagamaan, pendalaman ajaran agama, kreativitas berkesenian (tari, tabuh, lukis, pahat, dsb.) untuk kepentingan ritual, kesemuanya itu membuat decak kagum orang-orang di luar sana. Dalam ranah pawongan, masyarakat Hindu dengan konsep manyama-braya, paras-paros sarpanaya, salunglung sabayantaka, dan Tat Twam Asi yang mendasarinya semakin mempertegas eksistensi masyarakat Hindu yang ramah- tamah. Lebih-lebih lagi sesuai ajaran Hindu yang sangat yakin terhadap Hukum Karma Phala membuat kita semakin aman, damai, dan tenteram. Selanjutnya dalam tataran palemahan, perhatian masyarakat Hindu terhadap lingkungannya sudah tidak dapat diragukan lagi. Sebelumnya saya mempunyai sebuah pertanyaan, “Adakah agama di dunia ini mempunyai hari raya yang terkait dengan lingkungan ?” Jawabnya adalah ‘tidak’ kecuali Hindu. Karena apabila agama lain ada upacara untuk itu, berarti ia memperkuat kultus berhala, sementara ia sangat alergi dengan hal-hal berhala. Bagaimana dengan Hindu ? Hindu bukan agama berhala, walau ada hari raya Tumpek Pengarah untuk tumbuh-tumbuhan, Tumpek Kandang untuk segala macam ternak, Tumpek Landep untuk segala macam perabotan (senjata) sebagai sarana-prasarana mencari kehidupan, Nyepi untuk keharmonisan jagat raya, dan lain sebagainya. Karena substansi dari hari raya itu adalah persembahan yang tulus kehadapan Ida Sang Hyang Widhi sebagai rasa syukur atas segala kemudahan yang dianugrahkan-Nya melalui media yang ada di alam semesta ini, dengan diiringi oleh sebuah permohonan semoga di anugerahkan kelestarian dan kemakmuran yang berkeseimbangan dan berkelanjutan.
Dalam Bhagawadgita, II.10 diuraikan :
“Sahayajnah prajah srstva
Puro ‘vaca prajapatih
Anena prasavisyadhvam
Esa vo’stv istakamadhuk”
“ Pada zaman dahulu, Tuhan Yang Maha Esa (Prajapati) menciptakan alam semesta dan segala isinya dengan yadnya, serta bersabda: Wahai makhluk hidup dengan yadnya ini engkau akan berkembang dan peliharalah alam semesta ini menjadi sapi perahanmu”.


Bhagwadgita,VII.22 menegaskan :
“Sa taya sraddhaya yuktas,
Tasya ‘radhanam ihata,
Labhata ca tatah kãmãm,
Mayai’va vihitãm hi tãn.

“Diberkahi dengan kepercayaan itu dia mencari penyembahan pada itu dan dari itu pula dia dapat apa yang dicita-citakannya dan hasil mana adalah pemberian dari AKU sendiri.”
Pesan yang dapat dipetik dari sloka tadi adalah: bahwa kita harus senantiasa eling dan bhakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi sebagai pencipta jagat raya dengan segala isinya, selanjutnya membina hubungan yang harmonis di antara sesama manusia dan lingkungan sekitar. Maka dengan keyakinannya itu segala yang dicita-citakan akan tercapai sebagai berkah dari Yang Mahakuasa.
Umat sedharma dan pemirsa yang terkasih, dalam upaya menjaga keharmonisan alam semesta ini umat Hindu senantiasa menjaga keselarasan antara sekala dan niskala baik secara vertikal dengan Sang Pencipta dan lingkungan alamnya, maupun secara horizontal antar manusianya. Dengan demikian terciptalah energi positif yang dapat memberikan aura dan nuansa magis-spiritual. Ditambah lagi, dengan semakin eksisnya lembaga adat yang digerakkan atas konsep Tri Hita Karana menjadikan masayarakat HINDU semakin harmoni dan mandara. Umat HINDU akan semakin siap menghadapi segala tantangan pada era keterbukaan atau kesejagatan ini.
Umat sedharma dan pemirsa yang saya banggakan, sesungguhnya masih banyak hal yang ingin saya sampaikan pada forum ini akan tetapi mengingat terbatasnya waktu yang diberikan maka dharmawacana pada kesempatan ini saya akhiri dengan menghaturkan cakuping kara kalih, dan tidak lupa mohon maaf atas segala kekurangan yang ada pada diri saya.
Om Shanti, Shanti, Shanti Om
DHARMA WACANA ; disampaikan saat persembahyangan bersama Purnama 19 Januari 2011 oleh I Gede Bagus Weda Angga – siswa kelas 1 SMA



 

WANA DREAM

Wana Videos