Tampilkan postingan dengan label Ajaran Hindu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ajaran Hindu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 April 2016

SUKA DUKA DI JAMAN KALI (SEBUAH FENOMENA SOSIAL)








oleh: Drs. I Wayan Catra Yasa
 Om Swastyastu,

Umat Se-Dharma dan pembaca yang budiman,

Sebagaimana kita ketahui bahwa Hindu mengenal empat jaman dari Treta Yuga, Kertha Yuga, Dwapara Yuga dan yang terakhir adalah Kali Yuga. Kehidupan kita sekarang ini berada pada jaman kali Yuga. Pada jaman ini banyak hal yang terjadi dan bertentangan dengan hati nurani. Anehnya kegiatan yang justru bertentangan dengan konsep hati nurani banyak penggemarnya. Inilah yang perlu kita kaji dan menjadi acuan berpikir, berkata dan bertindak untuk tetap kiranya ajeg dalam tatanan ajaran Dharma.

Kehidupan ini terikat oleh suka dan duka, dimana segala pujian akan datang ketika dalam keadaaan suka dan begitu juga sebaliknya keadaan duka segala penderitaan dan hinaan datang bertamu kepada kita tanpa diuandang. Sesungguhnya Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Kuasa tidak memberikan kita ujian berat yang melebihi kemampuan kita. Kejadian dan perbuatan asubha karma yang dilakukan oleh manusia pada saat ini merupakan contoh konkrit, bahwa ternyata antara kandungan suci falsafah agama yang begitu ideal ternyata pada pelaksanaannya tidaklah sejalan dengan ajaran agama, sistem pengendalian diri yang bersumber pada ajaran Tri Kaya Parisuda, pada saat ini tidak banyak orang yang mampu menerapkannya dengan berbagai alasan kondisi situasional. Penerapan berpikiran yang baik, saat ini sangat sulit dilakukan karena berbagai intrik pribadi maupun kelompok yang membentuk konfigurasi yang kompleks, sehingga manusia merasa saling berebut pembenaran untuk mencapai tujuan yang dianggap paling benar. Penerapan berkata yang baik sesungguhnya sulit juga dilakukan, tutur kata seseorang ibaratkan dapat membunuh orang lain meskipun tidak menyentuhnya secara phisik sedikitpun, tutur kata yang bijak menurut kelompok yang satu, belum tentu baik menurut kelompok yang lain, sehingga sulitlah berkata yang baik. Penerapan bertindak yang baik adalah hal yang lebih sulit lagi dijaman kali yuga ini. Sudah banyak hal-hal yang baik dilakukan misalnya kegiatan keagamaan, tirtayatra, korban suci dan yadnya yang menghabiskan biaya jutaan rupaih, tablik akbar, misa Gereja. Begitu juga banyak buku-buku agama yang tersedia sangat lengkap di mana-mana dan telah kita baca. Demikian pula halnya dengan banyaknya acara kegiatan solidaritas antara sesama manusia, juga telah banyak dilakukan di bumi Nusantara ini. Meditasi yang khusyuk, telah dilakukan oleh para sahabat spiritual, tetapi kenapa kekacauan ini tiada nampak berakhir?

Ada orang sedang diberikan ujian suka, hatinya gembira, hartanya melimpah, anak-anaknya berhasil, keluarganya sejahtera, sementara ada orang yang sedang diberikan ujian duka, hatinya bersedih, terperosok dalam kemiskinan, segala usaha ekonomi gagal, keluarganya morat marit. Pada hakekatnya kedua situasi di atas sesungguhnya sedang menguji umat manusia. Itulah resiko hidup di dunia yang terikat dengan material.

Bangsa Indonesia sejak dasa warsa terakhir disibukan oleh kegiatan para penguasa atau pemimpin negeri ini yang secara logika teori bisa menjadi pemimpin yang bijak, menjadi contoh ketika dia berada di garis depan atau sebagai pembangkit motivasi dikala berada di tengah-tengah masyarakat dan menjadi pendengar setia ketika berada di balik layar. Tetapi apakah kenyataan yang kita jumpai, justru para penguasa memanfaatkan kesempatan itu untuk korupsi. Inilah fenomena yang terjadi di dunia material. Kegagalan dalam melaksanakan Catur Marga disebabkan karena segala perbuatan kita tidak menggunakan hati nurani di mana jiwa atman yang bersemayam di dalamnya. Kegiatan kegamaan yang nyata nampak, seolah semua itu telah sesuai dengan idealisme agama, namun kenapa kekacauan  tetap terjadi? Kedudukan yang baik dan terhormat, posisi kuasa yang strategis, semua itu merupakan ujian bagi diri kita sendiri. Hal hal yang terjadi yang menyimpang dari Dharma merupakan timbangan tanggung jawab kita di hadapan Hyang Widhi sebagai pencipta alam raya semesta yang tengah memberikan ujian kepada kita.

Karma kita tidak bisa terhapus karena hal-hal baik ataupun buruk, tetapi semua saling mengisi dan sangat menentukan nilai perjalanan secara evolusi tentang atman. Kedudukan baik dan kesempatan baik hanyalah media uji kita, pada situasi demikian, kita harus menolong diri kita sendiri, karena ujian yang diberikan semakin sulit. Tindakan adharma adalah cerminan bagi kegagalan ujian kita, kegagalan ini harus dipertanggung jawabkan seperti yang tertuang dalam hukum karma. Pertanggung jawaban itu dapat saja datang ketika kita masih hidup di dunia, misalnya sang koruptor dapat dijebloskan ke dalam penjara, atau setelah kita tiada, sehingga dengan perbuatan yang asubha karma dapat mengakibatkan samsara, masuk neraka atau menjelma menjadi makhluk yang derajadnya lebih rendah.

Dengan demikian bahwa prinsip dengan hidup yang singkat, pergunakanlah sebaik-baiknya untuk merubah nasib kita di dunia material pada kehidupan yang akan datang. Kita sesungguhnya tidak menolong dunia, tetapi kita menolong diri kita sendiri, maka tolonglah diri kita sendiri selagi kita beruntung menjadi manusia yaitu dengan menyebarkan kebajikan, memberikan cinta kasih, bekerja tanpa pamerih untuk kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia./f-igst

Semoga berguna,

Om Santih, Santih, Santih, Om

PELAKSANAAN UPACARAN HARI SARASWATI











 


1.Pendahuluan
Berbagai usaha dilakukan oleh Umat Hindu untuk mendekatkan diri kepada Hyang Widhi. Untuk kepentingan bhakti Tuhan diwujudkan dalam alam pikiran dan materi sebagai Tuhan yang berpribadi. Seperti halnya di india, pemujaan kepada Dewi Saraswati dilakukan setahun sekali, sedangkan umat Hindu di Indonesia juga memuja Dewi Saraswati setahun 2 kali yakni setiap 210 hari sekali. Menurut perhitungan kalender Jawa/ Bali yaitu setiap Sabtu Umanis Wuku Watu Gunung. Pemujaan dilakukan sejak matahari terbit sampai tengah hari yang bermakna pemujaan terhadap kekuatan Tuhan dalam mencipta dan menguasai ilmu pengetahuan suci. Apabila pemujaan dilakukan setelah matahari condong ke barat, maka yang dipuja adalah aksara dalam arti umum yaitu sebagai salah satu alat untuk mewujudkan ilmu pengetahuan.
2. Arti Kata Saraswati
Kata Saraswati dalam bahasa Sansekerta dari urat kata Sr yang artinya mengalir. Saraswati artinya aliran air yang melimpah menuju danau/ kolam. Pernyataan ini menunjukkan bahwa Saraswati adalah Dewata yakni Dewi Ucap, Dewi Pelindung Veda, Dewi Ilmu Pengetahuan. Dalam kitab Purana disebut berbagai nama Dewi Saraswati: Vach, Vag Devi, Bharati, Sharada, Vagiswari, Vinapani, dan umat Hindu memujanya terutama saat Saraswati Puja dan saat seorang anak didik diterima di sekolah. Dalam Rg Veda, yang dimaksud Saraswati adalah nama sungai yang kini bekasnya masih ada di India, namun hampir lenyap ditutup oleh gurun di Patiala, Negara Bagian Punjab.
3. Saraswati sebagai Devi Vak
Vak adalah ucapan yang berasal dari para maha Rsi Agung ketika menyelenggarakan yadnya. Dewi Vak adalah suara yang muncul dari awal penciptaan juga disebut ratu dari para dewa yang menganugrahkan kegembiraan bagi para pemujanya dengan mencurahkan hujan untuk kemakmuran mereka.
4. Saraswati dalam Kitab Purana
Asal-usul kelahiran Dewi Saraswati tertulis pada Brahma Vaivarta, Matsya, Padma, Vayu, dan Brahmanda Purana dengan berbagai versi. Walau berbeda pada prinsipnya beliau adalah sakti dari Dewa Brahma dan muncul ketika Dewa Brahma menciptakan alam semesta ini.
(Saraswati dalam Susastra Hindu di Indonesia. Sumber kajianya: dari tiga jenis naskah yaitu; Stuti, Tutur, dan Kakawin)
5. Makna Penggambaran Dewi Saraswati
Saraswati dilambangkan dengan wanita cantik merupakan simbul bahwa ilmu pengetahuan itu merupakan sesuatu yang amat menarik dan mengagumkan. Orang yang berilmu tinggi akan menimbulkan daya tarik luar biasa, mampu mencapai kedudukan terhormat, berwibawa, dan mulia. Berpenampilan simpatik, lemah-lembut, penuh kasih, sabar dan berkepribadian susila yang baik. Simbul-simbul yang terkandung adalah:
(1)    Tubuh dan busana putih bersih berkilauan Dalam kitab Brahma Vaivatra Purana menjelaskan bahwa warna putih simbol dari salah satu triguna yaitu satwam, artinya ilmu pengetahuan itu akan berguna bila muncul atau ke luar dari sifat satwam (identik dengan sattwam jnana).
(2)    Catur bhuja, memiliki 4 tangan yang memegang vina, aksamala, lontar/pusaka, dan kumbhaja.
Berdasarkan Agni Purana dan analisis para maha rsi atribut yang dipegang oleh Dewi Saraswati, masing-masing melambangkan:
Ø  Vina di tangan kanan depan, melambangkan Rta (Hukum Alam) dan saat alam tercipta timbul lah nada atau melodi atau nada Brahman berupa aksara suci “Om”.
Ø  Aksamala di tangan kanan belakang, yang melambangkan bahwa ilmu pengetahuan itu tidak pernah sepanjang hidup. Ilmu pengetahuan itu tidak punya batas artinya tidak ada ujung dan pangkalnya. Aksamala juga bisa dipakai untuk berkonsentrasi saat melakukan meditasi atau berjapa.
Ø  Lontar (pusaka) di tangan kiri depan, melambangkan ilmu pengetahuan tertinggi yang bersumber dari Tuhan.
Ø  Khumbhaja atau bunga padma di tangan kiri belakang, merupakan lambang Bhuana Agung sebagai istana Hyang Widhi.
Ø  Angsa adalah wahana dari Saraswati yang melambangkan orang yang dapat menguasai ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Mereka memiliki kemampuan wiweka artinya suatu kemampuan untuk membedakan yang baik dengan yang jelek, dan yang benar dengan yang salah.
Ø  Burung merak adalah lambang kewibawaan. Orang yang mampu menguasai ilmu pengetahuan adalah orang yang mendapat kewibawaan.

Menurut para ahli Astropologi bangsa-bangsa Austronesia memiliki kepercayaan bahwa binatang cecak diyakini memiliki kekuatan dan kepekaan pada getaran-getaran spiritual, sehingga dapat mendengar sabda gaib. Itu sebabnya dalam banten Saraswati berisi Jaja/jajan yang berbentuk cecak, mempunyai makna bahwa ilmu pengetahuan itu jangan hanya berfungsi untuk mengembangkan kekuatan rasio saja, tetapi harus mampu mendorong diri kita untuk memiliki kepekaan intuisi, sehingga dapat menangkap getaran-getaran gaib.

Mitologi Dewi Saraswati, di Sungai Saraswati terdapat tujuh Rsi ahli weda yaitu: Rsi Gautama, Bharatwaja, Wiswamitra, Yamadagni, Wasista, Kasiapu, Atri. Ketika musim kemarau tiba, keadaan di lembah sungai Saraswati itu kering, sehingga Sapta Rsi berpindah ke tempat lain. Sedangkan putra Dewi Saraswati yaitu Saraswati masih setia bertempat tinggal di lembah sungai Saraswati, karena kesetiaannya masih bertempat tinggal di sana, Saraswati mendapat perlindungan dari ibunya, sedangkan Sapta Rsi di tempat baru sulit untuk merubah nasibnya dan juga lupa pada isi weda. Gelar Rsinya tanpa makna kalau sampai lupa weda, sehingga Sapta Rsi kembali ke lembah Sungai Saraswati. Disana beliau memohon kesediaan Dewi Saraswati membangkitkan kesadarannya agar kembali dapat memahami isi weda yang merupakan tugas pokoknya. Dewi Saraswati memberi anugrah bila Sapta Rsi bersedia menjadi muridnya. Para Rsi bertanya, apakah patut orang yang lebih tua berguru kepada orang yang lebih muda?, karena Dewi Saraswati sangat masih muda, terhadap pernyataan ini Dewi Saraswati menjelaskan bahwa seorang guru kerohanian tidak tergantung pada umurnya, kekayaannya, kebangsawanannya, akan tetapi patut dilihat dari kemampuannya menyampaikan dan menguasai weda. Kedewasaan spritiual wedalah yang menjadi patokan utama. Penjelasan itu yang membuat para rsi mau berguru kepada Dewi Saraswati. Akhirnya Dewi Saraswati menurunkan kembali ilmu Veda itu kepada para rsi pada fajar menyingsing. Para rsi dapat mengingat kembali isi Veda. Setelah kejadian itu datang lagi 60.000 orang menghadap Dewi Saraswati agar diterima menjadi muridnya, karena iingin mendalami Veda. Lewat para rsi inilah Dewi Saraswati membangkitkan dan  menyebarkan isi Veda keseluruh pelosok dunia. (Disarikan dari buku Yadnya dan Bhakti tulisan Drs. I Ketut Wiana).

Berdasarkan uraian di atas, maka Saraswati dalam Veda pada mulanya adalah Dewi Sungai yang diyakini amat suci. Perkembangan selanjutnya Saraswati adalah Dewi Ucap, yang memberi inspirasi dan akhirnya dipuja sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. Semua simbol-simbol Dewi Saraswati adalah suatu metoda seni sastra agama untuk mendatangkan kehalusan budi, agar agama mampu mengarahkan hidup. Oleh karenanya memuja Tuhan menurut pandangan Hindu juga menggunakan aspek seni. Menggapai kesucian Veda hendaknya melalui seni budaya yang indah, didasarkan oleh keindahan seni agar dapat dijadikan dasar untuk mencapai kesucian Veda.
6. Pelaksanaan Upacara
(1) Pustaka,kitab-kitab suci Weda dikumpulkan dan ditata di tempat yang dianggap suci.Semua upakara/banten piodalan diletakkan di depan pustaka tadi.
(2) Setelah siap barulah memohon tirta Saraswati kehadapan Dewa Siwa Raditya. Upakaranya boleh canang sari dan bila memungkinkan peras,anjuman dan daksina.
Doa memohon tirta sebagai berikut :
v  Om ananta sanaya namah,
Om padmasana ya,
Om I BA SA TA A,
Om ya NA MA Siwa Mang Ang Ung namah
v  Om gangga Saraswati sindhu,
Vipasa kausikinadi
Jamuna mahasretha Sarayu ca mahanadi
Om Gangga dewi mahapunya,
Gangga sahasra medhini,
Gangga tarangga samyukte,
Gangga dewi namo stute,om.
Arti: Hyang Widhi,hamba memuja kemahakuasaanMu dan hamba memuja Hyang Widhi yang bersemayam dalam air suci ini.Hamba memuja Gangga,Saraswati,Sindhu,Vipasa,Kausiki,Jamuna,Serayu,tujuh sungai suci dan agung,Ciptakanlah dalam tirta ini kenikmatan rasa,kekuatan suci dan ciptakan kegunaan dan kewibawaan untuk kesejahteraan semua mahkluk.
(3) Menghaturkan banten yang sudah ditata pada kitab suci veda dan buku-buku agama.Melakukan pensucian/pembersihan sarana dengan mantram :
v  Membersihkan dupa,mantram : Om agnir-agnir jyotir-jyotir dupam samar payame.
v  Membersihkan bunga,mantram: Om Puspa danta ya namah swaha.
v  Memercikan toyo anyar 3 nkali dengan mantram : Om kara mursyate pras-pras pranamya ya namah swaha,3 x
(4) Setelah pembersihan,semua upakara atau banten dihaturkan kehadapan Hyang Saraswati dengan memanjatkan puja mantram Saraswati sbb.
v  Om Saraswati namostubhyam,
Warade kam rupini,
Siddha rastu kara sadam,
Siddhi bhawantume sadam,Om.
v  Om brahma putri mahadewi
Brahmanya brahma nandhini
Saraswati sayajanam
Prajanaya Saraswati
Om Saraswati dipataya namah.
v  Om pranamya sarwa dewasca
Paramatma name wanca
Rupa siddhi karoksabhet
Saraswati nama myaham,Om.
v  Om padma patra wimalaksmi
Padma kesara warni
Nityam padma laya dewi
Tubhyam nama Saraswati,Om.
Arti : Om Dewi Saraswati yang muia dan maha indah,cantik semoga kami dilindungi,dilimpahkan kekuatan.Om Dewi Saraswati yang memiliki tangan kuat yang berprabawa suci dan mulia kami memujamu.Sambil memanjatkan doa-doa tadi dibarengi dengan mencipratkan tirta Saraswati sebanyak 5 kali selebihnya dipakai sendiri atau untuk keluarga.
(5) Menghaturkan segehan disertai dengan tetabuhan dan toyo anyar,dengan doa :
      Om buktiantu durga katara
      Buktiantu kalamecewa
      Buktiantu bhuta-bhutangah,Om.
      Arti : Hyang Widhi hamba menyuguhkan sajen kepada Dewi Durga Katara,kepada Kala Mewaca      dan kepada Bhuta Bhutangah
7. Upacara Mebanyu Pinaruh
                Keesokan harinya,sepagi mungkin mebanyu pinaruh (mandi dan keramas dengan air kumkuman) lalu dilakukan pemujaan yang diakhiri dengan ngelebar memakan prasadam banten saraswati,nasi pradnyan,bila ada minum jamu yang maknyanya telah mendapat anugrah kebijaksanaan dan terbebas dari kebodohan.
                                                BANTEN SARASWATI
                Bila memungkinkan boleh juga membuat banten Saraswati seperti dibawah ini.
1.Suci satu soroh
Terdiri dari peras ajuman,tipat kelanan,daksina,suci canang lengawangi burat wangi masing-masing satu tanding.
2. Rayunan/sodaan/perangkatan putih kuning dilengkapi dengan rerasmen,lauknya bebek putih,raka-raka.
3.Banten Saraswati : Untuk membuata banten ini diperlukan beberapa perlengkapan yang agak khusus.
v  Sesamuhan suci 5/9 jenis,berwarna putih 3/5 jenis,berwarna kuning 2/4 jenis.Perbandingan putih dan kuning adalah 3:2 atau 5 : 4
v  Jaja saraswati satu buah lengkap dengan jaja yang berbentuk ongkara.
v  Jaja kukus ketan putih-kuning (ketan yang dikukus berwarna putih dan kuning
v  Bubur precet,bubur yabg dibuat dari tepung beras dicampur dengan air cendana dan santan,kemudian dibentuk sedemikian rupa,sehingga menyerupai kotoran cacing tanah.Jaja ini melambangkan kesuburan.
v  Bubur nganten,bahanya seperti membuat bubur precet,tetapi berwarna putih dan kuning yang dialasi dengan tangkih.
v  Bubur rokok dua buah,bahanya sama dengan bubur precet,tetapui dibungkus dengan daun endong bebentuk seperti rokok.
v  Bubur sekar Saraswati,dibuat dari 5 buah daun beringin yang masih melekat pada cabangnya didisi bubur seperti diatas bebentuk rokok dua buah dan berbentuk segitiga satu buah. Ada pula yang membuat berbentuk rokok 1 buah , segitiga 1 buah dan bentuk base tempel buah, sedangkan 2 lembar yang lain dibiarkan kosong.
v  Nasi Pradnyan adalah nasi yang dicampur dengan bumbu-bumbu lengkap,kacang-komak rebus,daun kemangi,daun jeruk limo, daun pradnyan dan kecicang.Bumbu dihaluskan dan digoreng,sedang bahan lainnya dirajang halus.
v  Nasi bira/wira,nasi yang dicampur dengan bawang goreng,kacang putih/komak yang direbus,bawang putih,kencur,garam dihaluskan lalu digoreng.
v  Segara gunung,terdiri dari kelapa,beberapa jenis temu seperti temu tis,temu ireng,temu lawak,temu kunci,temu poh,dll.Bahan-bahan ini dirajang lalu dikuskus  kemudian dicampur dengan nyah-nyah ketan,injin/beras hitam,beras merah,madu,arak,berem,gula merah,biji delima putih dan bawang goreng.
v  Alat –alat pensucian terdiri dari kekosok (tepung putih kuning),sisig (jaja gina yang dibakar).Sampo/ambuh(daun kembang sepatu dipotong-potong),tepung tawar(tepung beras ditambah daun dadap yang dikeprak, dan biaja( beras kuning yang direndam air cendana)
v  Raka-raka,pisang,buah-buahan,kue-kue,jaja renggina,dll.
v  Beberapa jenis sampian:sampian nagasari,payasan.Canang lenga wangi burat wangi,canang sari dan peyeneng,daksina sesayut.
CARA MENGATURKAN BANTEN SARASWATI
                Sebagai alasnya sebuah tamas diisi raka-raka,jaja kukus putih kuning,bubur nganten,sesamuhan suci jaja yang berwarna putih sebelah kanan,yang berwarna kuning sebelah kiri.Bubur precet,bubur rokok,nasi pradnyan,nasi bira,segara gunung,alat-alat pensucian ditata agak dibawahnya.Jaja/ sekar Saraswati ditaruh agak ke hulu.Paling diatas diisi sampian nagasari,payasan,canang lengawangi,peyeneng,canang sari.Pelengkapan berupa nasi,jaja bubur masing-masing dialasi dengan tangkih kecuali raka-raka.
4. sesayut saraswati : sebagai alasnya kulit sesayut diisi penek?tumpeng pendek 3 buah,masing-masing berwarna merah,putih,hitam,ujungnya ditutupi dengan janur dilengkapi dengan raka-raka,rerasmen,tulung 3 buah, kewangen 3 buah,penyeneng sampian naga sari.
5. Ayaban sesuai keadaan : peras,peyeneng,sesayut pengambean,dll.
6.Perlengkapan lainya,seperti cecepan,penastan,tigasan,tetabuhan,dupa/asepan.
7.Segehan cacahan putih/manca warna.

WANA DREAM

Wana Videos